Minggu, 06 Desember 2015

16 Mei 2012


Adakah cinta itu mengorbankan sesuatu hal demi kesempurnaannya? Hari ini aku baru saja menemukan jawaban itu, walaupun mungkin ini bukan kebenaran bagi manusia.
Persahabatan kini tengah diuji, ketika mendengar teman wanitaku yang kemarin begitu dekat kini menjadi pasangan dari sahabat dekatku sendiri. Bodohnya aku baru menyadari kesalahanku sekarang. Bagaimana bisa aku mengakui seorang sebagai sahabatku sedangkan perasaannya pun tak dapat kujamah. Aku bahkan sempat memusuhi dia dengan tanpa alasan, yang titlenya sebagai sahabatku. Bersikap kekanak-kanakan seakan aku yang harus selalu didahulukan dibandingkan yang lain. Dan yang lebih lucunya lagi wanita yang kini menjadi kekasih sahabatku ialah wanita yang aku anggap saudari dikampus ini. Jika aku masih diperbolehkan mengucapkan kata-kata aku bertanya pada diriku sendiri. “Masih layakkah aku mengaku sebagai sahabat?”.
Hari itu dimana aku mendengar mereka sudah menjalin hubungan, bukan main panas hati ini. Sesak menghimpit tanpa alasan yang logis mengapa bisa terjadi. Saat itu aku berpikir mereka tak benar-benar saling mencintai. Sampai datang hari-hari yang berlalu menguak kebenaran  yang sempat aku ragukan. Senyum yang tersimpul dari mereka tulus. Tawa canda mereka riang gembira. Aku justru mematikan akal pikiran dan membutakan penglihatan hati ini. Dan semua itu kulakukan agar berkurang gundah gulana yang kian tak bertepi, yang justru gelapnya kian memekat.
Bila hidup adalah panggung sandiwara, maka akulah satu-satunya pemain yang tak mungkin bisa melakoni pemeran sedih. Sutradara selalu menempatkanku sebagai pemeran yang selalu penuh kekecewaan, ambisi yang terlampau besar namun dalam kinerja yang teramat minim.Ya inilah aku sang pelakon tak bernama.
Adakah kamu tahu kenapa aku dapat tersadar dalam keterpurukan selama ini? Berawal dari tugas mata kuliah bahasa Indonesia di kampus kami, membuat cerita pendek. Dalam rentan waktu seminggu terpacu membuat karangan cerita pendek dengan kapasitas kami yang tidak semua meminati tulis menulis, termasuk aku. Di hari ini semua Mahasiswa diharuskan mengumpulkan tugas tersebut.
Semua saling tengok sama lain, saling menilai keindahan rangkaian kata yang terurai. Bukan aku tak tahu bahwa sahabatku menceritakan awal cintanya pada sang gadis dalam lembar-lembar kertas yang digenggamnya erat. Dari awal pembuatan karangan itu pun aku tak ditanyanya walau sepatah. Mengisyaratkan karangan itu hanya milik orang yang mengerti arti cinta yang sesungguhnya.
Kerenggangan ini semakin nyata saat itu, namun tak ada yang bisa kulakukan. Aku yang memulai dilema ini dan aku sendiri yang harus merasakan pahitnya diabaikan oleh sahabat sendiri. Pada akhirnya aku harus mengakui keegoisan yang mendominasi nafas ini pada mereka. Semoga jalan masih terbuka untuk membetulkan segala kesalahan ini.

Dimana aku harus bersandar ?

Kepada siapa kamu bertanya tentang suatu permasalahan ?
Dimana ia tak memihakmu tapi juga tak memihak kepada sesuatu . . .
Kecuali itu tentang kebenaran . . .
Hukum manusia yang paling adil pun terkadang tak sempurna . . .