Adakah cinta itu
mengorbankan sesuatu hal demi kesempurnaannya? Hari ini aku baru saja menemukan
jawaban itu, walaupun mungkin ini bukan kebenaran bagi manusia.
Persahabatan
kini tengah diuji, ketika mendengar teman wanitaku yang kemarin begitu dekat
kini menjadi pasangan dari sahabat dekatku sendiri. Bodohnya aku baru menyadari
kesalahanku sekarang. Bagaimana bisa aku mengakui seorang sebagai
sahabatku sedangkan perasaannya pun tak dapat kujamah. Aku bahkan sempat
memusuhi dia dengan tanpa alasan, yang titlenya sebagai sahabatku.
Bersikap kekanak-kanakan seakan aku yang harus selalu didahulukan dibandingkan
yang lain. Dan yang lebih lucunya lagi wanita yang kini menjadi kekasih sahabatku
ialah wanita yang aku anggap saudari dikampus ini. Jika aku masih diperbolehkan
mengucapkan kata-kata aku bertanya pada diriku sendiri. “Masih layakkah aku
mengaku sebagai sahabat?”.
Hari itu dimana
aku mendengar mereka sudah menjalin hubungan, bukan main panas hati
ini. Sesak menghimpit tanpa alasan yang logis mengapa bisa terjadi. Saat itu
aku berpikir mereka tak benar-benar saling mencintai. Sampai datang hari-hari
yang berlalu menguak kebenaran yang
sempat aku ragukan. Senyum yang tersimpul dari mereka tulus. Tawa canda mereka
riang gembira. Aku justru mematikan akal pikiran dan membutakan penglihatan
hati ini. Dan semua itu kulakukan agar berkurang gundah gulana yang kian tak
bertepi, yang justru gelapnya kian memekat.
Bila hidup
adalah panggung sandiwara, maka akulah satu-satunya pemain yang tak mungkin
bisa melakoni pemeran sedih. Sutradara selalu menempatkanku sebagai pemeran
yang selalu penuh kekecewaan, ambisi yang terlampau besar namun dalam kinerja
yang teramat minim.Ya inilah aku sang pelakon tak bernama.
Adakah kamu tahu
kenapa aku dapat tersadar dalam keterpurukan selama ini? Berawal dari tugas
mata kuliah bahasa Indonesia di kampus kami, membuat cerita pendek. Dalam
rentan waktu seminggu terpacu membuat karangan cerita pendek dengan kapasitas
kami yang tidak semua meminati tulis menulis, termasuk aku. Di hari ini semua
Mahasiswa diharuskan mengumpulkan tugas tersebut.
Semua saling
tengok sama lain, saling menilai keindahan rangkaian kata yang terurai. Bukan
aku tak tahu bahwa sahabatku menceritakan awal cintanya pada sang gadis dalam
lembar-lembar kertas yang digenggamnya erat. Dari awal pembuatan karangan itu
pun aku tak ditanyanya walau sepatah. Mengisyaratkan karangan itu hanya milik
orang yang mengerti arti cinta yang sesungguhnya.
Kerenggangan ini semakin nyata saat itu, namun tak ada yang bisa kulakukan. Aku yang memulai dilema ini dan aku sendiri
yang harus merasakan pahitnya diabaikan oleh sahabat sendiri. Pada akhirnya aku
harus mengakui keegoisan yang mendominasi nafas ini pada mereka. Semoga jalan
masih terbuka untuk membetulkan segala kesalahan ini.



















